UN, ABSURDITAS, UTOPIA DAN HARAPAN
Oleh: Taufikurrahman
Alumni PP. Annuqayah Latee, Sumenep
Tinggal di
Sampang
Absurd.
Mungkin kata itulah yang tepat untuk menggambarkan kegaduhan di sekitar
pelaksanaan UN (Ujian Nasional). Histeria kelulusan yang dilakoni siswa dengan mencorat-caret seragam, konvoi kendaraan bermotor
di jalan, serta isak-tangis, amuk massa dari mereka yang tidak lulus ujian, berpadu dengan hidmatnya
upacara Hardiknas. Pendidikan menjadi realitas yang sukar dipahami secara
tautologis. Hibriditas makna berpendar tanpa kendali, di dalamnya.
Kalau
hibriditas kebudayaan berlangsung dalam proses mimikri, sebua peristiwa
peniruan sekaligus persilangan bentuk kebudayaan dengan makna otentiknya, maka
dalam pendidikan, proses hibridasi makna berlangsung dalam bentuk skizofrenia. Putusnya
mata rantai pertandaan, di mana bentuk (penanda) tidak dikaitkan dengan satu
makna (petanda) dengan cara yang pasti, sehingga menimbulkan kesimpangsiuran
makna. Peristiwa ini tidak hanya melibatkan bahasa tetapi juga psikis dari
mereka yang terlibat di dalamnya.
Absurditas UN dapat dilihat minimal dalam
tiga hal. Pertama, dari segi muatan yang diujikan terlalu bersifat saintis, sehingga
tidak melibatkan seluruh potensi kecerdasan / multipile intelegences, anak sebagaimana
dimanahkan UUD 1945 dan HAM. Kedua, dari sisi kebijakan bertentangan dengan
semangat desntralisasi pendidikan dan otonomi guru dalam penilaian sekaligus
mereduksinya menjadi desentralisasi keuangan. Ketiga, sebagai akibatnya,
pendidikan, miskin ranah dan kehilangan spektrum maknya, terjebak dalam mekanisme pasar, relasi konsumsi dan
ketiadaan makna.
Refleksi Kebangsaan
Putusnya pertalian makna dalam pendidikan
akan mengantarkan Indonesia sebagai ”negara gagal”, di masa depan. Padahal
kontestasi politik, ekonomi dan budaya di antara negara-negara Asia, semakin
tinggi volumenya. Malaysia, sebagai negara tetangga dan serumpun dengan
Indonesia adalah negara yang paling ambisius untuk menjadi negara Asia yang
diperhitungkan dunia di masa mendatang.
Ketertinggalan Indonesia dari Malaysia
menampar harga diri bangsa. Bagaimana tidak, EDI
(Education Development Index) Indonesia
dalam Laporan EFA (Education For All) yang dilansir Global Monitoring Report pada tahun 2008, turun 5% dari sebelumnya
dan berada di bawah Malaysia, negara, yang pernah belajar baca-tulis kepada
Indonesia. Pangkal masalahnya sederhana, adalah rendahnya komitmen dari seluruh
elemen bangsa terutama pemerintah dalam pelaksanaan pendidikan yang bermutu
tinggi. Pelaksanaan program pemerintah terkait peningkatan mutu pendidikan
terkesan asal-asalan dan rembuk pendidikan hanya “selesai” di atas kertas. Program
pendidikan seperti paket “kejar tayang”.
Keadaan ini tentu tidak boleh dibiarkan
berlangsung lama. Harus ada upaya kearah rekonstruksi total pendidikan. Tidak
hanya pada wilayah konseptual, tetapi pada keseluruhan ranahnya sehingga
pendidikan tidak kehilangan spektrum maknanya. Sulit dibayangkan, seperti apa jadinya generasi
Indonesia masa depan? Sebagai tempat bersemainya kebudayaan, a cradle of civilisation, pendidikan akan
mengalami disfungsi dan disorientasi, yang berakibat pada gagalnya lembaga
pendidikan mencetak manusia kreatif, dan berkarakter. Tragisnya sekolah akan berubah
menjadi lembanga bimbingan belajar bersama dan pabrik ijasah (diploma mills).
Dalam suasan Hardiknas ini patutlah kita
melakukan refleksi kebangsaan, menggugat absurditas dalam pendidikan, menyelaraskannya
dengan UUD1945 dan HAM. Pendidikan tidaklah berada pada wilayah kosong, berorientasi
pada dirinya sendiri. Pendidikan adalah bagian dari proses perjuangan bangsa
ini untuk bangkit dari penjajahan dan ketidak-berdayaan, sehingga di masa depan
Indonesia menjadi bangsa yang besar. Inilah semangat yang melatari lahinya
Taman Siswa, cikal bakal dari pendidikan nasional kita. Semangat ini pulalah
yang harus selalu di bawa serta oleh pelaku-pelaku pendidikan, terutama guru, dan
dikomunikasikan terus-menerus, sehingga guru pantas menyandang gelar: Pejuang
Tanpa Tanda Jasa.
Utopia Dan Harapan
Indonesia harus belajar ke China. China
bersama Indonesia adalah dua negara yang diramalkan Goldman Sachs akan menjadi dua di antara negara the big-7. Dalam Thesis Jim O’Neil (senior economist pada Goldman Sachs), Indonesia dan China akan menjadi negara yang penting dalam 20-40 tahun ke
depan. Dalam publikasi Goldman Sachs tersebut, Indonesai pada tahun 2050 akan
menjadi salah satu negara the Big-7,
yaitu Brazil, Rusia, India, Cina, Amerika Serikat, Turki, dan Indonesia.
Sebagai sebuah bangsa, tentu, kita patut berbangga,
bahwa kelak Indonesia diramalkan menjadi salah satu dari tujuh negara yang disegani di dunia. Pertanyaannya
adalah apakah Indonesia memiliki prasyarat yang cukup untuk mentransformasikan
diri menjadi anggota the Big-7 pada
2050? Prasyarat apakah yang dibutuhkan? Ataukah cukup dengan mengandalkan
kekayaan alam yang bersifat given, disediakan Tuhan?
Menjawab pertanyaan di atas, kita harus melihat
Singapore dan Jepang, sebagai dua negara yang miskin sumber daya alam, kedua
negara tersebut telah berhasil mentransformasi diri menjadi negara yang
disegani di Asia, karena nilai
kompetitif sumber daya buatannya. Hal ini menegaskan bahwa kemajuan suatu
bangsa akan sangat ditentukan oleh pendidikannya.
Cina, seperti ditulis Li Lanqing (mantan PM Cina)
dalam bukunya yang berjudul Education for
13 Billion (2005), begitu ambisius mengintegrasikan berbagai teori
pendidikan dengan nilai-nilai Cina ke
dalam reformasi pendidikannya. Salah satunya adalah pendidikan karakter. Dalam reformasi pendidikan di Cina yang diinginkan
oleh Deang Xiaoping pada tahun 1985, secara eksplisit dikatakan tentang
pentingnya pendidikan karakter tersebut. Throughout
the reform of the education system, it is imperative bear in mind that reform
is for the fundamental purpose of turning every citizen into a man or woman of
character and cultivating more construktif members of society (Decisions Of Reform Of The Education System,
1985). Hasilnya cukup mengejutkan dunia seperti yang kita saksikan sekarang.
Belajar dari ketiga negara tersebut, yang belum
ditemukan di Indonesia adalah komitmennya. Merubah pendidikan sebagai instrumen
pasar menjadi a cradle of civilisation,
merubah praktik banking system education
ke arah problem passing education,
merubah praktik pembelajaran dari how to
know ke how to understand, how to
life together. Dengan cara demikian, guru dapat mengkomunikasikan
universalitas makna di balik proses KBM, sehingga anak didik belajar dengan
sadar dan pendidikan berorientasi pada pembangunan karakter.

Komentar
Posting Komentar