Opini : Mengukuhkan Semangat Garuda

Mengukuhkan Semangat Garuda
Oleh : M. Shidqi

Kita tentu merasa bangga, saat Stadion Bung Karno membahana oleh lagu “Garuda Di Dadaku” yang diteriakkan oleh puluhan ribu suporter Timnas Garuda saat berlaga di perhelatan AFF Suzuki Cup, 1 – 29 Desember 2010. Tidak hanya di Stadion Bung Karno saja, bahkan sampai ke pelosok-pelosok negeri, Garuda Di Dadaku menggema. Jutaan orang, mulai dari orang tua, remaja, sampai anak-anak kecil sekalipun–yang barangkali belum begitu mengenal apa itu Garuda, terlebih sebagai lambang Negara–sangat heroik meneriakkan Garuda Di Dadaku. Di tengah “kemarau panjang” kebanggaan akan prestasi sepak bola Nasional, gelora lagu Garuda Di Dadaku menumbuhkan optimisme baru akan bangkitnya kejayaan persepakbolaan Nasional yang sampai sekarang masih terus dirundung kekacauan.

 Meski pada akhirnya, Timnas Garuda gagal tampil sebagai jawara dan harus puas di tempat kedua setelah kalah head to head 2-4 melawan Malaysia di partai puncak, tetapi heroisme massal yang bergelora di seluruh pelosok Nusantara yang bersatu padu mengusung semangat Garuda, adalah “medali emas” tak ternilai yang harus dijadikan momentum penting dan medium baru, untuk mengukuhkan kembali semangat-semangat kebangsaan yang belakangan ini kian meredup.

 Redupnya semangat-semangat kebangsaan inilah, yang saat ini menjadi problema krusial dan membuat kehidupan kebangsaan kita dinaungi awan kelabu. Harmoni sosial semakin tak terjaga dan kini menampakkan wajahnya yang paling suram. Deretan panjang berbagai konflik-konflik horizontal yang belakangan merebak di mana-mana, baik yang berlatar SARA, politik dan ekonomi, telah membuat citra keadaban kebangsaan kita meluncur bebas ke titik yang rendah. Berkembang biaknya berbagai varian dan sel-sel baru gerakan radikal, yang tiada henti menebar teror dan ancaman, telah menggoyang sendi-sendi kehidupan kebangsaan kita menuju kerapuhan. Terungkapnya gerakan-gerakan massif pembaiatan terhadap ribuan anak-anak negeri yang dilakukan oleh kelompok-kelompok radikal untuk tak lagi setia pada sang Garuda Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa, begitu pula dengan terungkapnya “Negara Bayangan” dan “Pemerintahan Siluman” ala NII yang diproklamirkan secara diam-diam, telah membuat para petinggi Negeri ini “kebakaran jenggot”, dan kita semua terhenyak, betapa kehidupan kebangsaan kita tengah berada dalam ancama nyata yang serius!

 Di tengah kehidupan kebangsaan yang sedang dilanda kecemasan seperti saat ini, patut kiranya kita mempetanyakan ulang ; masihkah “Garuda” di dada kita? Masihkah pola pikir, pola laku dan sikap kita mencerminkan nilai-nilai luhur seperti yang terkandung dalam lima butir dogmatika pancasila? Jika kita mau jujur, rasanya sulit untuk menjawab hal itu, ketika melihat kehidupan politik yang kerap kali mengabaikan etika dan lebih berorientasi pada politik perebutan kekuasaan, uang dan jabatan, padahal sejatinya politik punya tujuan mulia sebagai instrumen perjuangan kesejahteraan rakyat. Ketika melihat kehidupan ekonomi yang masih melanggengkan kesenjangan sosial, dan pertumbuhan ekonomi masih sebatas klaim angka-angka yang dibanggakan, tapi kenyataannya angka pengangguran dan kemiskinan masih membengkak. Praktek-praktek hukum kita yang masih seperti “pisau”, tajam ke bawah tapi tumpul ke atas. Pun demikian dengan dunia pendidikan yang semakin mahal dan semakin menjamurnyan“Sekolah Bertarif Internasional (SBI)”, membuat rakyat kecil semakin gigit jari jika ingin mendapatkan pendidikan yang bermutu. Inilah kenyataan di mana ranah-ranah kehidupan kebangsaan kita, kian bergeser dari nilai-nilai pancasila sebagai dasar negara yang semestinya menjadi basis normatif dan ideologis.

 Sebelum seluruh sendi-sendi kehidupan kebangsaan kita ambruk, sebelum kita semakin terjebak dalam kubangan krisis identitas dan disorientasi nilai kebangsaan yang berkepanjangan, saatnyalah mengukuhkan semangat Garuda dan segera kembali ke Khittah kita sebagai Bangsa dan Negara yang menjungjung tinggi nilai-nilai luhur pancasila. Selanjutnya yang paling penting adalah, bagaimana membumikan nilai-nilai pancasila ke berbagai ranah kehidupan kebangsaan kita–karna hanya dengan menghadirkan kembali Pancasila sebagai basis normatif dan ideologis bagi seluruh aspek kehidupan kebangsaan, kita akan tumbuh sebagai sebagai bangsa yang berkeadaban dan berkeadilan.

 Dalam rangka itu, revitalisasi dan reideologisasi nilai-nilai pancasila harus segera dicanangkan sebagai program aksi bagi pembangunan karakter (character building) bangsa ke depan. Dunia pendidikan yang notabene merupakan medium dan sarana paling strategis bagi proses internalisasi dan ideologisasi Pancasila harus segera berbenah. Untuk itu, materi pelajaran Pancasila harus direvitalisasi kembali–setelah lama termarjinalkan dari silabus dan kurikulum pendidikan–untuk kemudian diajarkan secara lebih ideologis ketimbang sebatas wacana akademis. Hal ini harus dibarengi juga dengan penguatan pendidikan kewarganeraan yang akan menopang pemahaman paham kebangsaan-keindonesian dari berbagai aspeknya. Selain itu, pendidikan agama juga perlu mendapat perhatian dan diberi penguatan-penguatan perspektif yang lebih inklusif dan komprehensif–di samping itu pula, pendidikan agama dapat mengisi kekosongan pendidikan budi perkerti yang juga telah tergusur dari kurikulum pendidikan. Tentu proses pembelajaran materi-materi ini tak bisa dilakukan seperti penataran P-4 pada zaman orba yang indoktrinatif, tetapi dengan pendekatan pembelajaran yang lebih dialogis, partisipatoris, kritis dan analitis.

Menjadikan Revitalisasi dan reideologisasi pancasila ini sebagai prioritas, maka anak-anak negeri, para siswa dan mahasiswa sebagai generasi emas bangsa di masa depan, akan mempunyai sistem imunitas ideologis yang membuatnya tidak mudah “masuk angin” dan mudah dicuci otaknya untuk kemudian “disuntik” dengan virus-virus faham radikal–seperti yang saat ini terungkap dan marak di berbagai daerah, dan bahkan lebih mirisnya lagi, hal ini terjadi di kampus-kampus besar ternama.

 Dengan demikian, Garuda Di Dadaku sebagaimana kita gelorakan saat mendukung Timnas Garuda berlaga, tak hanya sekedar simbol dan sebatas lambang Negara yang dibanggakan, tetapi jauh di balik dada itu, di jiwa kita yang terdalam, tumbuh berkembang dan mengakar secara kuat nilai-nilai luhur pancasila yang, akan memancarkan keluhuran kemanusian bagi kepribadian kita sebagai bangsa dan warga Indonesia. Kita dapat tampil sebagai pribadi-pribadi yang berjati diri, berkarakter, karna sejatinya, burung Garuda–seperti dinyanyikan Iwan Fals dalam sebuah lagunya– bukan burung kakak tua yang, hanya pintar meniru dan mengekor.

 * Penulis Adalah Penghulu Muda pada KUA Kec. Bringin yang baru saja di pindah ke KUA Kec. Karangjti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PROFIL KUA BRINGIN

Khotbah Jum'at : Hikmah Hijrah Rasulullah SAW

KEGIATAN LINTAS SEKTORAL KUA KECAMATAN BRINGIN DAN PLKB